Ah, tolong lupakan saja tulisan-tulisan saya sebelum ini.
Saya akan mencoba membuat tulisan yang lebih berkualitas.
Mohon doanya.
Bismillah
Lupakan
•4 Februari 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarNijmegen University Short Course
•14 Januari 2010 • 1 KomentarBaru saja pulang dari seleksi pertukaran pelajar untuk kuliah singkat di Universitas Nijmegen, Belanda. Seperti seleksi lainnya, seleksi kali ini membuat saya kembali mengevaluasi diri.
Pelajaran paling penting yang saya dapatkan muncul dari betapa sulitnya saya menjawab pertanyaan soal apa penyakit tropis yang terbanyak di Indonesia dan kenapa penyakit itu menjadi penyakit terbanyak. Sebuah pertanyaan yang seharusnya bisa saya jawab sebagai tanggung jawab saya sebagai seorang yang bercita-cita ingin memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat Indonesia, namun ternyata malah membuat saya terdiam.
Saya baru menyadari, ternyata selama ini saya terlalu asik mempelajari pelajaran kedokteran di buku teks dan kehidupan politik bangsa saja, sampai-sampai saya lupa kalau saya juga harus lebih bersemangat mempelajari penyakit-penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia.
Sungguh saya merasa tercerabut dari dunia nyata. Terlalu cepat saya berpuas diri saat mempelajari hal-hal yang masih semu. Padahal belum saja bisa benar-benar memberi aplikasi yang tepat dalam dunia nyata profesi kedokteran yang seharusnya saya kuasai.
Terima kasih Nijmegen, saya akan terus menantang diri saya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Saya Masih Muda, Kok!?
•3 Januari 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarAkhir-akhir ini saya sedang bingung. Setiap kali saya bertemu orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya mereka selalu memanggil saya dengan sebutan “Pak”.
Tukang parkir misalnya, akhir-akhir ini mereka selalu bilang, “Terima kasih, Pak!”. Padahal, sebelum-sebelumnya saya biasa disapa, “Terima kasih, Bos!”.
Begitu juga dengan mbak-mbak penjaga kasir, mereka selalu bilang “Semuanya Rp. …, Pak”.
Awalnya saya pikir itu cuma prosedur dasar mereka. Tetapi makin kesini saya jadi semakin peduli pada masalah ini, karena mas-mas nasi padang pun bilang, “Mau tambah apa lagi, Pak?”.
Saya jadi takut. Apakah sekarang saya memang sudah dewasa dan pantas dipanggil “Bapak”, atau itu semua hanya karena muka dan penampakan saya saja yang boros umur.
Huh, sungguh membingungkan!
