sejak dulu ingin berlatih bisa menulis berbahasa inggris.
mohon saran dan kritik dari teman-temin sekalian (^__^)

INDIGENOUS PEOPLES RIGHTS IN THE CONTEXT OF GLOBAL DEVELOPMENT

Globalization, can also be accepted as global development, refers to the cross-border movements of goods, money, information, ideas, and people, and the concomitant interdependency of people and institutions around the world. This interconnectedness, and the changes it brings in living conditions and perspectives, creates both opportunities and challenges.

Formerly, globalization is objected to ease the obstacles of sharing information and other sectors among people of different countries to lessen the gap of development. But as it progress, what happen in reality is vice versa.

Globalization which should be a new force to help the poor and developing country by creating a bigger opportunity is now being the invasive energy of a greater malignant power. The border that previously used as the protecting barrier of a small country is now vanished, and unfortunately, it gives greater opportunity for the developed country to flourish and invade. This invasion really gives problem to the rights of people in lesser power country, including the indigenous peoples rights or also can be called the First Nations.

Based on the United Nations, there are over 370 million indigenous peoples around the globe and they are facing almost the same problems in the dynamic global development such as, 1) exploitation of their resources; 2) discrimination of their rights; 3) marginalization of their community; 4) lackness of self-determination (such as in education and health); and, 5) conflict of faith and religion between modernised peoples and indigenous peoples. It means there are 5.5% – 6% of human in this planet is still facing the problems as they were in prehistoric era.

The effort to help them get their rights face a really big challenges. The discussion of the declarations of rights for indigenous peoples has taken 22 years and is still being confronted by super power countries like the United States, Australia and Canada. They successfully bring this effort to a point of stagnancy. It gives us some proves that there are bigger interests from developed countries in this global development. The worst thing is those interests neglect the human rights of indigenous people. Nevertheless, instead of making globalization as an opportunity to make a better world, they made it as a tool to expand their interests.

Those problems need a global understanding and a great bonding from other countries to push these super powers to admit that the rights of indigenous peoples are just the same as the human rights and need urgent solution. The power of every aspects in humanity like the media and the young people is really needed in this matter.

The empowerment of the rapid share of information between the young people worldwide through the global media will help increasing the global understanding of this problem. This proposal can be a very good investment in the effort of giving the rights to the indigenous people because these young peoples are the assets of the future, the next generation leader that hopefully can bring a fresh atmosphere to a trully global development and human rights. If this can happen they will bring globalization to the next level, to be the solution for the development of the rights of indigenous peoples. Making the better world for all the mankind.

yeah!

setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya terdorong untuk mencurahkan buah pikiran saya lagi. semoga kali ini saya bisa konsisten.

kemarin, 29 juli 2009, saya sebenarnya berencana berkeliling jakarta untuk bertemu para ketua senat/bem fakultas kedokteran dalam rangka mengajak mereka datang dalam upacara pembukaan LKMM nasional ismki di unpad, tapi berhubung saya tidak tahu jakarta jadi saya mengajak teman saya untuk menemani.
teman saya yang tadinya hanya akan menemani ini ternyata membuat saya bertemu dengan sekjen dan sekwil ismki terdahulu. orang-orang yang dari dulu saya hindari untuk bicara karena saya merasa bisa menjalankan amanah sekwil saat ini tanpa bertanya kepada mereka.

setelah bertemu mereka, tiba-tiba obrolan menjadi mengasyikkan sampai tanpa sadar saya malah curhat tentang kesulitan saya mengemban amanah selama ini, tentang rencana-rencana pengembangan organisasi ini ke depannya, tentang bagaimana membangun “link”. sungguh luar biasa.

setelah pembicaraan usai, akhirnya saya menjadi malu sendiri. selama ini saya begitu sombong. merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri. merasa diri saya yang paling istimewa hanya karena punya beberapa gagasan berbeda. padahal, pengalaman dan sejarah juga bagian yang sangat penting dalam sebuah kepemimpinan. apalagi jika merencanakan sebuah perubahan.

hari ini saya sangat bersyukur. sebuah nikmat tentang pelajaran baru bagi mimpi saya telah diturunkan. semoga hal ini bisa menjadi manfaat bagi orang banyak di masa sekarang dan yang akan datang.

saya bingung.. emangnya ngga mungkin ya menggapai mimpi sambil pacaran?

waktu saya jadi ketua senat, orang-orang marahin saya waktu saya punya pacar..

memang benar saya lebih produktif waktu saya ngga punya pacar..

tapi saya ingin tetap punya pacar dan tetap produktif..

mungkin ngga sih?

gimana doooong????

Saya orang yang sederhana dan mudah ditebak,
tidak banyak berbeda dengan manusia lain yang sering kalian temui dalam kehidupan sehari-hari kalian.

Saya bukan orang yang brilian, bukan juga orang yang pandai berkata-kata.

Saya bukan orang yang relijius di mata banyak orang, tapi saya punya nilai-nilai kebenaran saya sendiri
yang saya yakin tidak akan bertentangan dengan yang kalian miliki juga.

Tenang saja, Tuhan saya sama dengan muslim lainnya.
Kitab suci saya pun begitu.

Saya bukan orang yang suci dan pandai menjaga pandangan, pikiran dan hati,
tapi saya pastikan saya tidak akan merugikan orang lain dengan perbuatan saya,
minimal saya punya niat yang sangat besar untuk terus memperbaiki diri.

Saya mengidolakan Pak Dirman tapi belum pernah berbuat sesuatu yang begitu besar seperti dirinya.
Saya sering iri padanya.

Banyak orang sering meremehkan saya,
tapi saya tidak akan menyerah pada mereka.

Saya belum menemukan siapa saya sebenarnya, tapi saya merasa sangat banyak berhutang pada Indonesia.

Oleh karena itu saya akan tunjukan di depan kalian semua,
kalau saya akan menjadi orang yang akan mengubah nasib bangsa ini.

Ketika saya ditanya, “Eh har, cita-cita kamu apa sih?”, saya akan segera menjawab tanpa ragu, “Saya ingin menjadi presiden RI!”, dan seketika itu pula saya tahu persis reaksi macam apa yang akan muncul dari lawan bicara saya. Karena sampai saat ini memang hanya ada dua macam pernyataan yang akan muncul, yang pertama mereka akan bilang, “Wuah, semangat ya Har!”, dan yang kedua adalah, “Weiss.. Ambisius..” dengan nada sedikit merendahkan.

Saya sebenarnya merasa sedikit terganggu dengan reaksi atau komentar teman-teman saya yang terakhir ini. Karena di sana saya dapat merasakan sedikit elemen ejekan mereka terhadap cita-cita saya dan juga rasa suudzon mereka terhadap saya kalau saya hanya menginginkan eksistensi dengan bercita-cita menjadi seorang presiden.

Sehingga saya rasa mereka perlu tahu alasan di balik “cita-cita ambisius” saya ini.

Cerita ini bermula ketika saya masih duduk di kelas dua SMP. Pada waktu itu saya naik mobil dari rumah saya di Tangerang menuju Jakarta bersama kedua orang tua saya. Jalan tol kebon jeruk yang ketika itu saya lewati masih cukup lancar sampai akhirnya mobil saya agak tersendat di daerah yang cukup padat, yaitu di beberapa ratus meter menuju pintu tol tomang. Mobil yang saya naiki pun melaju dalam keadaan padat merayap.

Saya yang duduk di kursi belakang kemudian merasa bosan dan akhirnya melihat-lihat keluar jendela mobil. Lalu saya menemukan sebuah gambaran yang sangat menarik perhatian saya ketika itu. Seorang kakek tua berjualan rokok asongan di jalan tol sambil mengejar mobil-mobil yang ingin membeli dagangannya.

Seketika saya terkesiap. Saya membayangkan hal-hal yang sangat aneh, yang sampai sekarang pun saya masih bingung kenapa bisa pikiran seperti masuk ke kepala saya ketika itu. Otak saya berpikir, menerjemahkan apa yang mata saya lihat. Di ujung sana berdiri seorang kakek, memanggul keranjang berisi rokok dan air minum berkemasan gelas plastik dan beberapa manisan buah yang ingin dia jual.

Ya, seorang kakek, yang berdiri disana bukanlah seorang pemuda, tapi seorang kakek. Yang mungkin umurnya berkisar antara 60 – 70 tahun. Karena guratan di wajahnya sudah begitu banyak. Rambutnya juga sudah banyak sekali yang memutih. Kulitnya sangat keriput dan posturnya yang agak bungkuk. Dengan sedikit kumis dan jenggot yang berwarna campuran antara hitam dan putih dan mata yang lelah tapi jernih, penuh harapan.

Logika saya mengatakan, seorang yang berumur setua itu pastilah sudah berkeluarga. Minimal memiliki seorang istri yang umurnya tidak akan terlalu jauh berbeda. Mungkin sedikit lebih muda. Tapi yang menurut saya pasti, adalah dia juga memiliki seorang anak, yang dalam kultur masyarakat Indonesia yang berpedoman banyak anak banyak rezeki , pasti lebih dari satu. Bisa dua, tiga, empat, atau bahkan lebih.

Lagi-lagi karena dia berusia sekitar 60 – 70 tahun, logika saya mengatakan, anaknya tidak mungkin masih kecil-kecil. Mereka pasti sudah besar, bahkan mungkin sudah berkeluarga. Dan orang yang sudah berkeluarga biasanya tidak akan puas jika hidup berdua saja, mereka pasti ingin memiliki anak juga. Minimal satu. Yang berarti akan menambah jumlah manusia dalam keluarga besar kakek itu.

Kali ini, pikiran saya berhenti bekerja sejenak, tiba-tiba hati saya bangun. Dia berbisik,”Manusia yang mencoba menghidupi keluarga sebesar itu adalah seorang kakek loh, Har”. Kakek tadi yang berusaha dengan berjualan rokok di tengah jalan tol. Dengan berlari mengejar mobil yang menjadi pembelinya, ataupun dengan menghindar dari mobil yang melaju dengan cukup kencang demi keselamatan dirinya.

Hati saya pun membisikkan kalimat keduanya, “Tapi kenapa harus seorang kakek, Har? “, seraya bersembunyi menunggu jawaban dari otak saya.

Otak saya bekerja lagi. Pasti ada hal yang tidak beres dalam keluarganya sehingga mengharuskan seorang kakek tua yang turun tangan untuk menghidupi keluarga besar itu. Ada banyak hipotesis yang otak saya berikan ketika itu. Pikiran skeptis saya yang pertama kali muncul. Dia bilang, “Itu pasti karena anaknya malas-malas, Har. Hobinya hanya menyenangkan diri sendiri. Main perempuan. Mabuk-mabukkan”. Sungguh mengerikan. Tapi kemudian, pikiran saya yang lebih lembut berbisik, “Siapa tahu anak-anaknya sedang sakit, Har. Mereka menderita penyakit yang sangat parah sehingga membuat mereka hanya bisa menunggu di dalam rumah. Tidak mampu keluar untuk memperjuangkan nasib keluarganya. Ataupun jika mereka tidak sakit, ada hal yang begitu besar menekan mereka sehingga mereka harus bertumpu pada kakek itu untuk hidup”. Pernyataan yang sungguh menyentuh. Membuat hati saya seketika menangis. Mempengaruhi mata saya yang kemudian ikut sedikit berair.

Entah kenapa, tiba-tiba saya membayangkan kalau saja kakek itu tertabrak mobil dan tidak bisa pulang. Saya membayangkan istrinya yang sedang menangis. Tapi itu belum seberapa jika kita menyadari kakek tadi menjadi tumpuan begitu banyak manusia. Akan ada berapa manusia yang tidak bisa makan. Akan ada berapa manusia yang tidak bisa hidup. Berapa banyak anak bangsa yang akan hilang seiring dengan menghilangnya kakek itu. Berapa banyak anak bangsa yang harus mati lagi karena keadaan yang begitu sempit. Begitu menyesakkan. Begitu menekan.

Tak terasa air mata saya menetes. Ketika itu saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan si kakek. Apa yang ia perjuangkan. Lalu, tiba-tiba munculah sebuah tekad: Saya ingin mengubah nasib orang-orang seperti ini. Saya ingin bangsa ini tidak menderita lebih banyak lagi. Saya ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia.

Dan ketika pikiran saya bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka?”, pikiran lugu saya seketika itu pun berbisik, “Jadilah presiden, Harry. Jadilah pemimpin negara ini. Jadilah orang yang berguna bagi bangsamu”.