Setiap membuka youtube, facebook, twitter, selalu saja menemukan orang-orang yang menjelekkan karya saudara sebangsanya sendiri. Memang sebenarnya bukan hanya di Indonesia, tapi saya perhatikan khususnya di Indonesia hal ini banyak terjadi. Dunia maya biasa menyebut mereka HATERS (Having Anger Towards Everyone Reaching Success) yang artinya SMOLS (Susah Melihat Orang Lain Sukses).
Banyak fenomena yang bisa diambil contoh, misal tentang “Lagu Melayu”, “SMASH”, “J-Rocks dan L’arc-En-Ciel”, “WALI, Hijaudaun, Kangen Band, ST 12″, “Dangdut”, “Inul Daratista”. Sampai-sampai oleh beberapa band yang merasa sudah terkenal dibuatkan lagu untuk mengolok-olok mereka.
Kalau diperhatikan, band-band atau artis yang membuat lagu tersebut juga tidak terkenal di luar negeri. Maksud saya, mereka tidak lebih baik dari yang mereka olok-olok. Skalanya cuma di tingkat nasional. Yang lebih menyedihkan adalah mereka yang belum menghasilkan karya apa-apa tapi terus berkomentar buruk di internet.
Kalau kita mau introspeksi, belum ada satu pun band Indonesia yang benar-benar Go International karena memang kita belum punya “IDENTITAS”. Orang bule punya “Rock, Jazz, Pop” yang dimodifikasi di beberapa negara lain menjadi “Brit-Pop, J-Rock, K-Pop”. Orang India punya tarian dan musik yang khas dan mendunia, Korea punya grup vokal yang perfeksionis dalam tiap gerakan dan penampilannya, Dunia Latin punya samba dan tango yang dipelajari hampir di seluruh sentra fitness. Lalu kenapa begitu banyak pemuda yang antipati dengan lagu melayu dan dangdut? Bukankah itu khas milik kita? Lalu bagaimana dengan band dan musik Indonesia saat ini? Hampir semuanya hanya mengekor pada tren musik luar negeri. Ada beberapa yang merasa tahu “Jazz” lalu mulai pongah dan mengolok musisi lain yang sedang mencoba berekspresi dalam aliran melayu ataupun boyband pop.
Bagi saya musik adalah ekspresi hati, dan berhubungan erat dengan fase hidup masing-masing musisinya. Kalau ada yang bisa mengekspresikannya dalam lagu melayu — atau tarian boyband, biarkanlah, tak perlu pongah, coba dengar dan perhatikan, karena guru saya pernah berpesan:
Semua yang disampaikan dari hati akan sampai pada hati yang lain
Hasilnya, pasti kita pernah merasa begitu cocok dengan sebuah lagu kan? Di saat itu mungkin ekspresi hati sang musisi sedang berada dalam keadaan yang sama dengan hati kita.
Ekspresi hati yang bebaslah yang menghasilkan banyak artis hebat seperti Queen, Coldplay, Michael Jackson atau beberapa yang baru menanjak seperti Lady Gaga, 30 seconds to mars, Rihanna, Super Junior, L’arc-En-Ciel. Maka saat kau mendengar Rhoma Irama — atau Ridho Rhoma sang anak, SMASH, band-band melayu, cobalah untuk menghilangkan prasangka dan harga diri berlebihan. Coba dengarkan ekspresi mereka. Jika mereka bersungguh-sungguh berkarya maka kamu pasti dapat menikmatinya.
Siapa tahu jika pemuda Indonesia “berani” mendukung ST 12 mereka akan menjadi band skala internasional dengan membawa suara khas bangsa kita?
Semua hal bisa menjadi baik jika dilakukan dengan sungguh-sungguh
Ayo kita dukung musisi Indonesia yang bersungguh-sungguh. Kalau mau mengkritik, kritiklah mereka yang tidak bersungguh-sungguh dalam bermusik dan hanya berniat numpang terkenal ataupun “aji mumpung”.
Bagi saya sendiri, White Shoes and The Couples Company adalah contoh band yang patut diteladani dalam mencari dan mengekspresikan identitasnya. Cheers
Coba lihat ini: http://www.youtube.com/user/wsatcc :)





Hehehe.. I am one of those people who dissent sma*h (gtau nulisnya piye)
Simply because they resemble super junior a lot!
But i do agree that we have yet had the “identity”. Oh anyway, fyi, band mocca is quite famous in south korea. I heard their songs have been adopted as bckground musics in a few variety and reality shows
Wow! Well done, Mocca! *paging Hanif Mr. GNFI. The thing is, now even more boybands generated in Indonesia after SM*SH emerged. If SM*SH was inspired by Su-Ju, these guys is inspired by SMASH. I have big respect for SMASH because they have guts and big heart to break Indonesian music industry. At first everybody mock them, but now everyone is trying to do the same thing. It’s a never ending trend in Indonesia which can hurt our creative industry.
mantabs kang…tp sbnernya kang kita juga ga bisa 100% nyalahin musisi yg sukanya ngeledek, karena memang mereka ga dikasih kesempatan yang sama oleh industri dengan band2 yg akang sebutkan. Saya udah pernah bilang kan di notes saya, pelaku industri musik di tanah air juga pengennya instan dapet duit, jd ya mereka bikin public icon (bukan musisi) yg juga instan dan mengesampingkan kualitas. Kualitas dsni dalam hal produksi musikalitasnya bukan genre. Apapun genre-nya klo digarap dgn kualitas penuh, orang pasti terima. Jd konteks pembodohan bukan terletak pada genre, tp lebih kpd proses produksi dan perilaku industrinya sndriri.
Bnyak yg dr mereka yg bner2 serius menelurkan rekaman yg berkualitas ujung2nya kalah bersaing (untuk hidup). Contoh, induk label dr White Shoes dan SORE, Aksara Records, terpaksa gulung tikar karena angka penjualan. Itupun Aksara hanya sebatas untuk produksi rekaman, produksi CD dan promosi, 70% ditanggung talent-nya. berbeda dengan Major label yg smua2nya ditanggung oleh label, dengan harapan modal mereka balik ditambah keuntungan. Jelas aja major label ogah ambil resiko.
Klo yg untuk Go International, saya pikir itu ya imbas dr apa yg saya jelaskan diatas. Ditambah – saya pernah diceritakan slah satu musisi yg ckup tersohor – klo misalnya ada atase dan dubes kita di luar negri mengundang talent / performer dr Indonesia yg diundang ya yg itu2 aja, sesuai selera mereka “Kade, Yunsar dll.”. Bukan krn mereka tidak memiliki kualitas, namun kurangnya ruang dan kesempatan untuk memperkenalkan hasil karya musisi atau budayawan yg lain. bheheh.
lemang bener juga klo sbgai musisi klo blom ngapa2in sih mending ga usang ngomong gede…lain critanya klo sbgai konsumen, musik kan itu produk, jadi ya sbgai konsumen hrus kritis…nah mending kita memposisikan diri kita sbgai konsumen…
@dico : ok juga nih pemikiran lo,,ya ngga har? Tapi ya itu dic, yg punya label itu kan bisnis man, bukan musisi..hehehe.
- ” musisi yg sukanya ngeledek, karena memang mereka ga dikasih kesempatan yang sama oleh industri dengan band2 yg akang sebutkan”
Gua kutip ya dic. ini tuh bukan musisi bgt. Ga ada alesan mereka ngeledek karena mereka ga dapet kesempatan. Kesempatan tuh bukan dikasi kok, tapi dicari. Musisi tau bener kok itu. Kalo mereka yang masih “mengemis” kesempatan, lupain aja deh jalan buat jadi musisi..hehehe..
“Musisi itu bukan titel atau pekerjaan, itu lebih kepada cara untuk menjalani hidup”
Band2 berkualitas di aksara, gua yakin mereka masih survived kok. Kalau mau “jualan”, ga melulu harus di Indonesia kan? Gua yakin mereka pasti punya tempat sukses diluar sana.
“Jangan jualan daging di komunitas vegetarian”
SImpel.
PS : jadi kapan kita nge-band dic?
akh.. gua suka banget kata-kata kau bro..
“Musisi itu bukan titel atau pekerjaan, itu lebih kepada cara untuk menjalani hidup”
absolutely spot on
@Hardut : Mantabb..bole juga mikirnya..hehehe..komen ah..mumpung free
- Orang bule punya “Rock, Jazz, Pop”..
gua kutip kalimat lo di atas ya har. Sebenernya justifikasi ini ga kuat juga yaa..karena roots nya musik itu di Blues, delta blues..yang notabene banyak dimainkan sama orang kulit hitam, yg mana tidak relevan lagi jika disebut bule..hehehe.Tapi anyway, kita bermusik itu bukan untuk menunjukan kita darimana yaa..tapi lebih kepada, “ini loh karya gua”. Jadi ga soal kan, mau jenis/genre musik apa yang kita pilih. Selama kita serius, orang bisa lihat kok.
- karena memang kita belum punya “IDENTITAS”..
balik lagi har, identitas di sini tuh apa?..coba deh liat Jay Chou, di awal booming-nya dia di dunia international, dia ga bisa bahasa Inggris loh! Terus, musik yg diusung nya pun bukan yang khas china kan? Tapi ketika dia muncul, orang2 tau loh kalo dia itu dari “timur”.
-belum ada satu pun band Indonesia yang benar-benar Go International..
patokannya apa sih, biar bisa disebut benar-benar Go International? Banyak kok Har, beberapa band yg udah disebut di atas itu masuk kelas Go International..White Shoes, Mocca, The S.I.G.I.T, SID, Agnes Monica, Burger Kill dan banyak lagi..jadi maksud go international di sini, ya itu, porsi pemberitaan di media kita..Yg paling gampang, Agnes, dia udh bagus loh, tapi liat musik yg dia usung? Ga indonesia kan? masak dia dibilang ga punya identitas..ngga bisa gitu kan..hehehe..Coba liat G-Pluck, dia terkenal lho di liverpool sana..orang2 tau kalo mreka dari Indonesia,,tapi, apa karena musik yg mereka mainkan adalah punya The Beatles, lantas kita mau bilang mreka ga punya identitas? ngga kan..hehehe
Intinya sih, kalo kita mau diakui di dunia International yg sekarang berlaku..ya kita harus mau masuk ke dalamnya..caranya, berkomunikasilah dgn bahasa international yg sekarang sedang berlaku..
“membawa pulpen dan kertas tidak lantas membuat anda diakui sebagai wartawan, bukan?, menjalankan aktivitasnya lah yg membuat anda diakui”